Rabu, 02 November 2011

Material Kayu


    Kayu Gelondong
Hutan sebagai salah satu penentu ekosistem, pengolahannya ditingkatkan secara terpadu dan berwawasan lingkungan untuk menjaga dan memelihara fungsi tanah, air, udara, iklim dan lingkungan hidup serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Inventarisasi dan penatagunaan hutan ditingkatkan untuk menetapkan status kawasan hutan, memanfaatkan hutan konversi bagi penyediaan lahan untuk kepentingan pembangunan serta untuk melestarikan manfaat ekosistem dan keserasian tata lingkungan.
Sesuai dengan fungsinya, semua jenis hutan telah dikelola dengan hasil yang beraneka ragam. Ada hutan yang menghasilkan jasa wisata dan lingkungan  sebagai menghasilkan kayu atau produksi non kayu. Dari eksploitasi hutan produksi tetap ini dapat dihasilkan kayu olahan dengan nilai export.
Sangat ironis apabila industri karya desain interior berbasis kayu menghadapi ketidakberlanjutan karena kekurangan kayu. Sebagian karena hutan sudah hampir habis dibabat. Sebagian lagi karena kayu diselundupkan ke luar negeri.. Hutan rusak karena dirambah untuk pembangunan yang tidak rasional, seperti permukiman di daerah puncak pegunungan.                                               

Eksploitasi hutan dengan menggunakan sistem Tebang Pilih Taman Indonesia (TPTI) telah menghasilkan kayu untuk mendukung beroperasinya industri kayu. Namun ternyata antara kapasitas pabrik yang ada dengan kebutuhan kayu bulat tidak seimbang.
Kegunaan hasil produk untuk karya desain  interior dan desain dapat beragam, dan luwes. Namun yang perlu diingat sisa potongan kayu atau limbah gergajian sebenarnya masih dapat difungsikan lagi. Namun tidak kalah pentingnya dalam hal kualitas ekspor hasil karya desain  interior dan desain perlu memperhaikan perolehan sertifikat ecolabeling  maupun ISO yang ditentukan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan maupun kesepakatan dunia internasional.

Tabel 2: Kebutuhan Bahan Baku Kayu Glondongan.

No
 
Jenis Industri
Jumlah
Unit
Kapasitas
(per Tahun)
Kebutuhan Kayu Bulat
(M3/Tahun)
1

Saw-mill

1.973
17.894.693
35.608.218
2
Ply-wood
115
9.459.485
17.503.047
3
Black-Board
114
1.926.688
1.177.421
4
Particle-Board
80
6.769.420
-
5
Chip-mill
19
4.093.522
4.293.552
6
Pulp-will
3
630.000
3.150.000
7
Pancil-Slat
6
86.045
139.272
8
Chapstick
75
4.156.570
664.091
9
Korek api
9
16.506.000
214.578
Jumlah
2.394
75.216.423
62.747.549
           Sumber: Ditjen Pengusahaan Hutan (1990)
 
    Produk Kayu Bangunan
Kualitas bangunan dapat dilihat dari segi 1) bahan bangunan serta konstruksinya dan 2) tata letak atau keberhasilan desain interior. Bahan bangunan dan konstruksi menentukan suatu bangunan mudah rusak, mudah terbakar, lembab, panas, mudah jadi sarang serangga pembawa penyakit, panas, bising dan sebagainya.
Kayu olahan, merupakan bahan kayu yang telah diolah dari kayu gelondong.
Tidak semua kayu gelondong dipotong dalam bentuk papan. Ada yang dikupas dengan pisau tajam sehingga potongannya menjadi tipis yang disebut lapisan kayu halus, terkelupas. Beberapa lapisan kayu halus dapat di lem disatukan untuk dijadikan tripleks, dengan spesifik baru lebih kuat, lebih murah daripada kayu padat dengan ketebalan yang sama.
Lapisan kayu halus yang berasal dari kayu gelondong masih langka dan mahal, namun kegunaan dalam interior dapat ditempelkan pada kayu atau papan tipis yang lebih jelek mutunya seperti untuk finishing permukaan meja, kursi,  almari, serta peralatan dapur. Papan blok mempunyai jenis olahan kayu lain, sering dipakai untuk pintu. Blok kayu lunak di lem menjadi satu diantara dua potong lapisan kayu halus. Papan blok lebih menyerupai lapisan kayu. Sistem daur ulang yang dianjurkan untuk eko-interior, supaya tidak ada sedikitpun serbuk gergaji dan potongan kecil dari kayu terbuang dari tempat penggergajian. Potongan kecil kayu dipotong menjadi keeping kecil bersama dengan serbuk gergaji, ditaburi lem dan ditekan menjadi lembaran untuk dibuat papan tipis.
  
    Furnitur
Furnitur lebih akrab disebut perabot, merupakan hasil karya Desain Interior sebagai pengisi ruangan. Bahan baku utama perabot bias terbuat dari bermacam bahan alami maupun buatan, seperti kayu, bambu, rotan, besi, baja, keramik tanah liat, aluminium, plastik, kaca, maupun fiber dan sebagainya sesuai fungsi dan peruntukannya. Furniture kualitas ekspor perlu memperhatikan standar mutu seperti ISO atau Ecolabeling. Apabila tidak memenuhi persyaratan secara global maka produkfurnitur tidak dapat berkompetisi dalam kancah ekspor dunia. Model, gaya dan konstruksi untuk masing-masing perabot mempunyai teknik secara spesifik. Hanya saja persaingan secara global mensyaratkan material utama furniture harus ramah lingkungan dari sejak pengambilan bahan baku sampai perawatannya.
a.  Peluang Ekspor Mebel
Peningkatan nilai ekspor mebel hasil karya Desain Interior dapat meningkat apabila pihak Departemen Kehutanan memprioritaskan jatah tebangan hutan alam untuk bahan baku industri mebel. Apabila ditargetkan ada kenaikan nilai ekspor produk mebel, akan dapat tercapai kalau penggunaan jatah tebangan hutan alam betul-betul dimanfaatkan untuk mebuat produk mebel yang bernilai tambah.
Dari catatatn Asosiasi Industi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), nilai ekspor produk mebel tahun 2003 mencapai 1,64 miliar dolar AS. Tahun 2002, nilai ekspornya sebesar 1,47 miliar dolar AS. Pengaruh kebijakan Menteri Perindustrian dan Perdagngan diharapkan memprioritaskan penggunaan jatah tebangan hutan alam untuk bahan baku industri mebel daripada indsutri perkayuan lainnya. Kebijakan pemerintah tersebut jelas  sangat berpengaruh terhadap naiknya nilai ekspor industri mebel. Misalnya, rencana pemerintah untuk melarang ekspor rotan mentah. Hal ini dapat dipahami, karena dengan ekspor rotan lebih dapat meningkatkan produksi dan nilai tambah.
Rotan mentah selama ini memang diekspor, baik secara resmi, dengan memanipulasi administrasi dokumen, maupun menyelundup. Manipulasi administrasi dokumen dilakukan dengan cara merendahkan harga patokan ekspor (HPE) rotan dan pajak ekspor sebesar 15 persen. HPE rotan berkisar 0,55 dolar AS per kg sampai 2 dolar AS per kg. Untuk itu para Desainer Interior harap memahami apabila eksportir nakal menggunakan patokan HPE yang rendah meskipun seharusnya membayar dengan HPE 2 dolar AS.
Pihak Departemen Kehutanan perlu memprioritaskan penggunaan jatah tebangan hutan untuk bahan baku industri mebel. Sebagai contoh, kalau satu kayu gelondongan dimanfaatkan untuk produk mebel, nilai tambah akan lebih tinggi. Nilai tambah menjadi berkurang kalau kayu bulat tadi hanya dimanfaatkan untuk produk kayu lapis (plywood) atau kayu gergajian. Salah satu kendala yang membuat daya saing produk mebel kurang adalah adanya  ekspor kayu secara ilegal.
Kayu ilegal dimanfaatkan negara lain dan memproduksi produk mebel. Bahkan pengusaha mebel dari negara lain, seperti Malaysia, juga memanfaatkan tanaga kerja Indonesia (TKI) untuk memproduksi produk mebel. Kondisi buruk tersebut apabila tidak segera diperbaiki akan berdampak pada keterpurukan peran Desain Interior untuk memproduksi mebel. Sebagai ilustrasinya, nilai ekspor produk mebel tahun 2004 sebesar 200 juta dolar AS sampai 300 juta dolar AS berpotensi hilang karena produsen mebel tidak dapat memenuhi pesanan dari pembeli. Pesanan tidak dapat dipenuhi produsen karena adanya pembatasan jatah tebangan hutan alam tahun 2004 sebesar 5,5 juta meter kubik.


  Veneer dan Finishing Kayu
Sebagai penutup atau fisnishing interior sering dipergunakan secara tidak alami ialah bahan pelapis veneer dan finishing kayu. Bahan baku veneer berupa plastik dan karet sehingga akan menmbulkan kelembaban pada dinding karena tidak mempunyai pori-pori yang terbuka lebar untuk penguapan.
Finishing kayu dapat bermacam dan berbagai jenis produk yang beredar di pasaran. Faktor efisiensi dalam pelapisan finishing kayu serta kemudahan perawatan menjadi pertimbangan untuk sifat eko efisiensi.

Eko-Material


    Eko-material
“Eko-material: merupakan singkatan dari environmentally-coscious materials, ecologically-oriented materials, atau ecologically-benign materials, yaitu material sadar lingkungan, material berorientasi pada ekologi, atau material ramah lingkungan. Konsep ini lahir setahun sebelum diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Sumit ) di Rio de Janiero, Brasil, tahun 1992. Dipelopori oleh ilmuwan Jepang, selanjutnya berkembang di negara–negara Eropa, Amerika Serikat, serta negara–negara lainnya.
Teori George Clark (dengan bukunya Elements of Ecology) menyatakan elemen ekologi adalah organisme, tumbuhan di dalam dunia floranya, hewan dengan dunia faunanya, serta manusia sebagai mahluk tertinggi, temasuk factor eko-interior yang ebrsifat fisis, chemis, dan mekanis. Diantara elemen dengan factor eko-interior terdapat berbagai sebagai suatu inter-relationship yang bersifat mutual dan crucial. Masing-masing elemen pada eko-interior memiliki serta terpust pada berbagai ekosistem.
Konsep material dan pemprosesannya ini merupakan buah kesadaran para ilmuwan bidang material terhadap lingkungan global. Kesadaran holistik akan interaksi aktivitas berbagai sistem yang meliputi human–system, geo–system, dan bio–system. Dua sistem terakhir ini dikenal dengan ecosphere.
Pemprosesan material tradisional selama ini masih berfokus hanya pada dua sistem pertama. Manusia memproduksi material dari bahan baku yang berasal dari alam. Memprosesnya menggunakan teknologi yang ada maupun baru, untuk selanjutnya digunakan guna memenuhi keperluan hidup serta dalam rangka peningkatan kenyamanan. Eco-materials berusaha mengaitkan ketiga system itu secara menyeluruh. Menurut Harjanto (2003) terpenuhinya kebutuhan hidup dan kenyamanan manusia dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Sebagai sebuah bidang ilmu, eco-materials dikembangkan dengan menyandarkan pada tiga hal pokok yang saling berkaitan erat.
Pertama, pengembangan eco-materials merupakan salah satu bentuk pengembangan teknologi baru yang dapat meluaskan batas pengetahuan manusia. Hal ini sejalan dengan pengembangan mateial tradisional dengan meningkatkan fungsinya secara fisika, kimia maupun panas.
Kedua, eco-materials dikembangkan dengan meminimalisasi kerusakan lingkungan alam. Pengurangan konsumsi material dan energi, emisi gas beracun dan limbah akibat pemrosesan material, menjadi perhatian utama dalam rangka mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Ketiga, melalui optimalisasi teknologi dan infrastuktur dalam menciptakan hidup sehat serta harmonis dengan alam. Keramahan material diukur tidak saja kepada manusia penggunanya, tetapi juga alam.
Dengan demikian, pengembangan eco-materials dapat diuji dan didekati, diantaranya dengan pertanyaan-pertanyaan berikut.
a.       Bagaimana memproduksi eko material dengan sifat dan karakteristik yang memenuhi syarat penggunaan dengan sekecil mungkin dampak terhadap lingkungan.?
b.      Bagaimana memperoleh kinerja maksimum eko material dengan seminimal mungkin konsumsi bahan baku dan energi? 
c.       Bagaimana sifat daur ulang eko material dapat lebih ditingkatkan?.
Penelitian dan pengembangan eco-materials relatif sangat actual, ditandai dengan baru dilaksanakannya empat konferensi internasional sejauh ini. Satu hala yang dapat membuka peluang bagi negara lain untuk mengejar perkembangan teknologi ini. Ada tiga bidang/kelompok eco-materials yang gencar diteliti dan dikembangkan, yaitu bidang/kelompok material konsumer, material komoditas dan material transmisi energi serta transportasi.

Beragam Jenis Eko-material
Material konsumer adalah material hasil produksi massal yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Penggunaannya sangat dekat dengan manusia. Terhadap material ini, justru yang digunakan adalah menggantikan senyawa-senyawa berbahaya material tradisional dengan senyawa baru yang lebih aman. Tujuan akhirnya adalah mengurangi beban lingkungan dari senyawa itu. Material bebas senyawa berbahaya.
Plastik kemasan dibuat lebih “ramah” dengan mengantikan unsure klor (Cl) di dalam rantai polimernya. Klor adalah unsur utama pembentuk dioksin (Polychlororinated dibenzo diaxins, PCDD) yang termasuk golongan endocrine disruptor.  Salah satu senyawa organic beracun yang bias mengakibatkan kegagalan fungsi hormonal pada tubuh manusia. Pembentukannya tidak serta merta terjadi. Pemicunya adalah jika plastic yang mengandung klor itu terbakar pada temperature sekitar 200-400 derajad Celcius. Menciptakan plastic bebas klor adalah lahan garapan peneliti di bidang ini.
Timbal termasuk pula unsure yang tidak diinginkan keberadaannya bagi eco-mateials.

Closing The Plastic Recycle Loop

The Plastic Recycle Loop






Plastik
Bahan plastik kini banyak ragamnya, bahkan serat benang untuk pakaianpun terbuat dari plastik. Padahal bahan plastik yang utama, adalah Seluloida, baru tercipta sekitar satu abad yang silam. Bahan mentah dalam produksi plastik umumnya datang dari industri minyak bumi, berupa gas organic atau persenyawaan organic lain yang termasuk sederhana strukturnya. Bahan mentah plastik ini disebut monomer. Misalnya gas etilen adalah monomer dari polietilen. Sedangkan monomer vinichlorida yang terutama dihasilkan dari etilen, merupakan monomer dari bahan plastik polivinil chlorid, atau lebih dikenal dengan singkatan PVC.
Dalam proses polimerisasi, molekul monomer yang sederhana saling disambungkan dengan bantuan suatu katalisator, membentuk molekul-molekul polimer yang panjang seperti rantai. Berlainan halnya dengan monomer asalnya, polimer ini dilihat dari segi kimiawi merupakan zat padat yang lamban sekali bereaksi. Kestabilan kimiawi merupakan sifatnya yang paling berharga.. Tetapi segi buruknya ada juga. Plastik tidak bisa membusuk sehingga menimbulkan masalah polusi.
Dari segi fisika, bahan baku plastik berbeda kelenturan dan keadaannya apabila dipanaskan. Adanya perbedaan ini menyebabkan plastik polimer diklasifikasikan ke dalam golongan zat Termoplastik dan zat Termoset. Perbedaan ini disebabkan oleh jumlah dan jenis ikatan kimia yang terjadi antara masing-masing molekul polimer saat berlangsung polimerisasi. Umumnya polimer yang teguh ikatan molekulnya lebih kaku dan tidak begitu gampang berubah bentuk, jika dibandingkan dengan yang iakatan molekulnya lebih jarang.
Sifat fisik suatu golongan polimer lainnya, yaitu Elastomer, juga bias dijelaskan dari sikap masing-masing molekul terhadap sesamanya. Bahan ini lebih dikenal sebagai karet sintetik, dan merupakan polimer yang serbaguna.  Misalnya saja komponen utama ban kendaraan. Sedangkan polimer lainnya dari jenis ini adalah karet Silikon, dipakai sebagai protese dalam tubuh karena sifatnya yang tidak gampang berubah. Kestabilan strukturnya pada suhu tinggi, dimanfaatkan dalam pembuatan pesawat ruang angkasa.
Penggunaan plastik berkembang begitu pesat dan majunya dengan berbagai macam kegunaan. Bahan dasar plastik yang diolah menghasilkan karyaseni dan karya desain dengan tampilan sesuai fungsi dan kegunaannya. Pada interior bangunan, dimulai dari aksesoris kecil, tangkai pisau, komponen kontak listrik, mebel, sampai elemen utama interior dipergunakan untuk lantai, dinding, langit-langit, atap dan sky light, profil, kusen, pintu dan jendela. Penggunaan pintu plastik (PVC) dapat menggantikan posisi pintu kayu kamar mandi yang tidak tahan air dan kelembaban. Meskipun tahan air, sifat plastik atau PVC adalah sangat tidak ahan panas dan api karena sifatnya yang sintetis
Dengan demikian, plastik termasuk bahan kerja atau material dasar untuk berkarya desain  interior. Untuk berbagai keperluan, plastik sudah menggantikan peranan kayu dan logam. Lain halnya dengan bahan-bahan alam, maka plastik takkan langka selama cukup tersedia energi untuk membuatnya secara sintetik. Kursi dapat dibuat dari polypropilen, suatu bahan termoplastik dengan proses cetak injeksi. Propilen, gas atau bahan mentah monomer yang mengalami polimerisasi untuk dijadikan bahan plastik merupakan produk industri minyak bumi. Bahan isolasi panas dari hasil buatan, yaitu dari karet sintetis dan plastik busa seperti polytyrene dan polyurethanefoams.
Plastik kemasan dibuat lebih “ramah” dengan menggantikan unsur klor (Cl) di dalam rantai polimernya. Klor adalah unsur utama pembentuk dioxin (polychlorinated dibenzo diaoxins, PCDD) yang temasuk golongan endrocine disruptor.  Salah satu senyawa organic beracun yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi hormonal pada tubuh manusia. Pembentukannya tidak serta-merta terjadi. Pemicunya adalah jika plastik yang mengandung klor itu terbakar pada temperatur sekitar 200-400 derajad Celcius. Menciptakan plastik bebas Klor adalah lahan garapan peneliti di bidang itu untuk material interior yang ramah lingkungan.

Biokomposit, Komposit Hijau
Karya Desain Interior sangat haus material, terkadang perlu bahan tahan lama serta terdegradasi bila tidak lagi diperlukan. Plastik yang diperkuat dengan bahan alami, khususnya yang berasal dari tanaman, sehingga dapat menggerakkan revolusi material interior abad ini.
Plastik Polipropilen yang diperkuat dengan serat “rami”. Substitusi serat gelas juga dilakukan khususnya untuk komponen interior benda bergerak seperti mobil. Keuntungan pemakaian biokomposit, mempunyai sifat lebih baik dalam hal akustik, keramahan pada pengguna dan ramah lingkungan, kemudahan pemasangan serta pemeliharaan, dan rendahnya biaya produksi.
Bahan komposit terdiri atas dua atau lebih bahan yang secara fisik kimia berbeda, tersusun secara terdistribusi dengan antar muka memasukkannya. Bahan komposit terdiri atas fasa ruah yang kontinu disebut matriks dan yang terdispensi disebut dengan istilah Penguat, biasanya lebih kuat dan lebih keras.
a.     Konsep bahan komposit hijau, adalah mengkombinasikan bahan yang berbeda untuk menghasilkan bahan baru dengan kuncinya yang tidak dapat dicapai oleh masing-masing komponen. Contohmya beton bertulang yang diperkuat dengan kawat baja dan besi beton.
      Matriks menerima beban dan menstransfernya ke penguatnya yang lebih kuat untuk meningkatkan kekuatan komposit. Matriks komposit dapat berupa polimer, logam serat atau partikel gelas, carbon, bahan organic, boron, keramik ataupun logam.
      Penguat komposit tidaklah harus berbentuk serat yang panjang. Penguat komposit dapat berupa partikel, whisher (serat sangat kecil mirip rambut dengan kekuatan tarik yang sangat besar tumbuh dalam kristal logam, paduan dan sebaainya), serat yang tidak kontinu, lembaran dan sebagainya.
      Walaupun sebagian besar bahan akan lebih keras dan kuat dalam bentuk serta dibandingkan dalam bentuk lain, sehingga sebagian besar bahan komposit hijau menggunakan serat sebagai penguat dapat dipergunakan untuk bahan pokok dan penunjang interior.
b.  Pembuatan Komposit, dalam pembuatan komposit bermatriks polimer dapat dibuat dengan compression malding, injection malding. Sementara komposit bermatriks keramik dengan infiltrasi, yakni dengan penyatuan fasa penguat dengan matriks yang belum dikonsolidasikan kemudian diikuti dengan pengkonsolidasian matriks.
c.       Sifat Komposit.
      Selain mengikuti serat, matriks mempunyai fungsi penting menstranfer beban yang diterima komposit dengan serat. Sifat komposit yang dihasilkan bergantung pada sifat: komponen dan susunan serat dalam matriks.
      Komposit yang berpenguat serat dan lembaran mempunyai sifat yang Isotropik dapat digunakan penguat elemen interior yang berbentuk partikulasi.

Pengelolaan Air

        Pengelolaan Air
Dengan adanya globalisasi isu dan keprihatinan lingkungan hidup yang telah merambah pula keberadaan air sebagai sumber daya alam, maka pengelolaan air tidak dapat lagi mengabaikan lingkungan hidup. Para pemakai air harus bersikap ramah lingkungan. Barangsiapa berlaku mencemari air, tidak berjiwa mengelola air serta mengabaikan kualitas dan kuantitas air berarti ia juga anti-lingkungan hidup. Masyarakat yang menjadi pemakai air semakin kesulitan memperoleh air bersih, mereka akan memilih produk lain air seperti air dalam kemasan Aqua yang mahal harganya, secara cepat atau lambat daya saing produk mereka akan merosot. Oleh karena itu pengelolaan air perlu menggunakan sebuah Sistem Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPLH) yang ramah lingkungan hidup.
Air sangat esensial untuk kehidupan. Kebutuhan air tidak saja menyangkut kuantitas, melainkan juga kualitas. Jumlah air yang tersedia sangat berkaitan dengan iklim, terutama curah hujan. Air juga berkait erat dengan hutan, baik kuantitasnya maupun kualitasnya yang penilaiannya berdasarkan peruntukannya. Faktor penting lain yang mempunyai pengaruh besar pada kuantitas dan kulaitas air yang tersedia ialah kegiatan manusia. Apapun peruntukkannya, kualitas air akan menurun bila terjadi pencemaran. Penurunan ketersediaan air bersih akan berdampak negatif terhadap keberlanjutan pembangunan, yang saat ini tidak diimbangi kapasitas kelembagaan pengendalian pencemaran air. Tindakan pemerintah terhadap pelanggaran baku mutu limbah jarang dilakukan atau bahkan hampir-hampir tak ada. Demikian pula tak ada tindakan terhadap perusakan lingkungan hidup lainnya, misalnya, perusakan hutan. Penegakan hukum yang sangat lemah ini merupakan pendorong bagi banyak masyarakat dan usahawan untuk tidak mematuhi perundang-undangan. Perhitungannya ialah bahwa biaya berdamai lebih murah daripada biaya mematuhi undang-undang. Akibatnya, kerusakan pencemaran air kita telah mencapai daerah yang luas dan tingkat yang tinggi. Sumbangan industri pada pencemaran air di Jawa berkisar antara 25-30% beban total pencemaran dan laju kerusakan hutan adalah lebih dari sejuta hektar per tahun. Sebagian besar contoh (sample) penelitian ikan dari Teluk Jakarta mengandung logam berat yang melebihi ambang batas WHO (World Health Organization). Biaya sosial-ekonominya pun sangat tinggi.
Karena air tidak bertambah ataupun berkurang, maka dengan meningkatnya pemanfaatan air, kualitasnya yang dapat berubah. Hal ini terjadi apabila kemampuan air untuk membersihkan dirinya secara alamiah sudah terlampaui, oleh karena itu diperlukan tindakan untuk mencegah terjadinya pencemaran air.
Pengelolaan dilakukan dengan mengelola pemanfaatan sumberdaya air, dengan memperhatikan: penghematan dan konservasi, minimalisasi pengotoran dan pencemaran, serta maximisasi daur ulang dan pemanfaatan kembali.
Peranan pemerintah adalah terutama memberi pedoman atau rambu-rambu, misalnya baku mutu lingkungan hidup. Tetapi tidak mengaturnya secara mendetil bagaimana memenuhi pedoman atau rambu-rambu itu. Pemerintah mengembangkan instrumen insentif-disinsentif, termasuk instrumen pasar, untuk mendorong kelakuan yang ramah lingkungan dan menghambat kelakuan yang anti-lingkungan hidup. Pemerintah memberi alternatif-alternatif teknologi ramah lingkungan hidup. Mana yang dipilih, terserah pada masyarakat. Instrumen insentif-disinsentif juga mendorong masyarakat untuk berinisiatif mengembangkan teknologi ramah lingkungan hidup.
Masyarakat juga didorong untuk mengembangkan kode praktik lingkungan hidup sukarela yang merupakan pedoman pemanfaatan sumberdaya air dengan cara yang ramah lingkungan yang menguntungkan semua pihak. Kode praktik itu tidak ditentukan oleh pemerintah, melainkan oleh masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan hidup biogeofisik dan sosial-budaya-ekonomi masing-masing. Kode praktik itu bersifat lentur dan dapat diperbaiki berdasar pengalaman sukses dan kegagalan serta berko-evolusi dengan lingkungan hidup yang mengalami perubahan dengan dinamis. Unsur-unsur kearifan tradisional yang masih relevan dan sesuai dengan kondisi mutakhir diadopsi, sedangkan yang telah dysfungsional karena tidak sesuai lagi dengan perubahan lingkungan hidup biogeofisik dan sosial-budaya-ekonomi dibuang.

Selasa, 01 November 2011

Pentingnya Eko Interior

                               

1.  Pentingnya Eko Interior
a.        Dasar pentingnya mempelajari Eko Interior

1)       Conflic in use:  merupakan penggunaan untuk beberapa kepentingan dalam implementasi karya;

2)       Fisical Polution: adanya pengaruh luar dan dalam proses serta hasil implementasi karya;

3)       Resoures Development : merupakan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dalam berkarya desain;

4)     Social Polution: sebagai moral, perilaku dalam pengelolaan lingkungan hidup.


b.   Tujuan mempelajari Eko Interior

1)       Segi Praktis Ideal; tercapainya keserasian hidup dan terpeliharanya lingkungan yang serasi sepanjang masa.

2)       Segi Akademik; mempelajari sebab akibat, sifat dan wujud hidup atau bentuk pencemaran (fisis, sosial dan budaya) terutama pencemaran sosial yang menjadi penghambat lajunya pembangunan berwawasan lingkungan.

3)       Segi tanggung jawab moral; sebagai insan lingkungan mengarahkan dan membawa karya desain yang ramah lingkungan serta membawa masyarakat menuju sadar lingkungan agar kehidupan dan penghidupan manusia semakin serasi dan sejahtera.

c.             Memulihkan dan Mempertahankan Kelestarian Ekosistem Bumi

1)       Pendekatan terpadu pengelolaan sumber daya alam (SDA)

2)       Mempertahankan sedapat mungkin ekosistem alami di setiap karya Desain Interior

3)    Menghilangkan tekanan tehadap ekosistem alami dan yang telah dimodifikasi dengan cara melindungi hasil karya Desain Interior dan mengelola dengan cara berwawasan lingkungan.



2.  Lingkungan Hidup

Adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (UULH 4, 1982, Bab I Pasal 1 ayat 1).

Lingkungan hidup disusun oleh sumberdaya yang terdiri dari sumberdaya manusia, sumberdaya alam hayati, sumberdaya alam non hayati, dan sumberdaya buatan (UULH, 1982 Bab I Pasal 1 ayat 5, Anonimus, 1989).

Ilmu Lingkungan ialah ilmu yang mempelajari lingkungan hidup, yang disusun oleh sumberdaya manusia dan sumberdaya alam hayati (mahluk hidup), sumberdaya alam non hayati dan sumberdaya buatan (sebagai habitat atau tempat tinggal).


3. Ekologi Induk Ilmu Lingkungan

Induk Ilmu lingkungan ialah adanya pengetahuan yang mempelajari hubungan timbal balik yang dinamis antara mahluk hidup dengan habitat atau tempat tinggalnya.

Induk Ilmu Lingkungan adalah “Ekologi” asal kata oikos (rumah tangga) dan logos (ilmu pengetahuan). Ekologi ialah ilmu pengetahuan tentang hubungan timbal balik yang dinamis antara mahluk hidup dengan rumah tangga atau lingkungannya.
Ekologi, mempelajari bentuk hidup dan kehidupan dalam hubungannya tertentu pada suatu periode waktu tertentu dan tempat tertentu.

Ekologi Manusia” atau “Ekologi Sosial” berguna untuk mempelajari cara dan gaya hidup manusia dalam lingkungan totalnya serta dampak yang ditimbulkannya.



3.  Klasifikasi Lingkungan Hidup

Secara sederhana lingkungan hidup terdiri dari Lingkungan Abiotik, Biotik dan Cuture.  Lingkungan Abiotik juga disebut lingkungan fisik alam dan buatan; Lingkungan Biotik terdiri dari mahluk hidup flora dan fauna; sedangkan Lingkungan Culture terdiri dari lingkungan sosial, ekonomi, budaya, pertahanan, keamanan nasional (Sosekbudhankamnas).
Lebih rinci Soemirat (1996) mengklasifikasi lingkungan hidup terdiri:

a.   Lingkungan yang hidup (Biotis)
Lingkungan yang tidak hidup (Abiotis)

b.   Lingkungan Alamiah
Lingkungan Buatan (manusia)

c.    Lingkungan Prenatal
Lingkungan Postnatal

d.   Lingkungan Biofisis
Lingkungan Psikososial

e.    Lingkungan Air (Hydrosfir)
Lingkungan Udara (Atmosfir)
Lingkungan Tanah (Litosfir)
Lingkungan Biologis (Biosfir)
Lingkungan Sosial (Sosiosfir)

f.      Kombinasi dari klasifikasi tersebut.
                 

4.  Isu Lingkungan Global

   Lingkungan Global sebenarnya merupakan pencemaran yang terjadi hampir di seantero pelosok bumi di negara maju maupun di negara berkembang.

   Empat hal masalah lingkungan global:
1.    perubahan tingkat pertumbuhan penduduk;
2.    limbah bahan bahaya beracun (B3);
3.    pergeseran  lokasi sumber dan penyebaran pencemaran dari negara industri ke negara berkembang;
4.    serta menyebarnya dampak lokal menjadi global.

   “Perubahan tingkat pertumbuhan penduduk seiring dengan perkembangan ekonomi. Pertumbuhan penduduk diikuti dengan konsumsi minyak bumi dan penggunaan energi yang meningkat”.

   Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah pestisida dan sampah radio aktif.

   Penyebab utama pencemaran lingkungan :
a.    pertumbuhan penduduk yang sejalan dengan perkembangan ekonomi.
b.    barangkali karena gerakan ekologi dangkal negara maju yang mengekspor pencemaran ke negara berkembang untuk mengurangi pencemaran di negara mereka sendiri.

        Pencemaran tidak mengenal batas negeri (pollution knows no national boundary)m sehingga pencemaran pada suatu negara akan berakibat pada negara lain. Kasus hujan asam adalah contoh yang nyata. Hujan asam adalah hujan dengan derajad keasaman pH lebih kecil dari 5,6. Air hujan menjadi asam karena terkontaminasi oleh sulfur dioksida (SO2) dan oksida nitrogen (NOx). Sumber SO2  yang utama adalah industri dengan bahan bakar batu bara, sumber  NOx yang terbesar adalah kendaraan bermotor. Akibat hujan asam pada bangunan, ekosistem danau, lahan, dan hutan serta tanaman pertanian sangatlah merugikan.

        Pencemaran global yang lain disebabkan senyawa kimia freon atau Clorofluorocarbon (CFC) yang merusak lapisan ozon. Lapisan ozon menyelubungi bumi di dalam stratosfir pada ketinggian sekitar 15 sampai 25 km dari permukaan bumi. Ozon menjadi penyaring sinar ultraviolet, sedangkan sinar ultraviolet jenis UV-C sangat berbahaya bagi kehidupan karena dapat menimbulkan kanker.







Efek rumah kaca dan pemanasan global merupakan fenomena pencemaran global lain yang semakin mengkhawatirkan. Efek rumah kaca terjadi karena semakin banyaknya gas CO2 di angkasa berakibat cahaya matahari sampai ke bumi dipantulkan ke angkasa ternyata tertahan di lapisan CO2 tersebut dan dipantulkan balik ke permukaan bumi yang menjadikan bumi semakin panas. Sumbangan gas CO2 ter-hadap efek rumah kaca sekitar 50% saja. Penyebab lainnya adalah gas methane (15%), CFC (13%), NOx (9%), dan gas stratosfir (13%).